proses pencarian
Apa sih yang dicari?
Seperti sudah menjadi suatu keharusan, bahwa setelah lulus kuliah, harus mencari pekerjaan. Hal tersebut yang mendasari beberapa orang untuk langsung melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan, berharap untuk mendapatkan undangan psikotes dan interview, walau hasilnya nihil. Kalau hasilnya nihil, terus terusan lamar. Satu bulan, tiga bulan, enam bulan, sampai akhirnya sudah satu tahun dan hasilnya tetap sama, tidak ada kemajuan. Jenuh bila ditanya "kok belum dapat kerja?", oleh keluarga dan orang-orang terdekat. Malu rasanya jika belum mendapatkan pekerjaan sedangkan teman satu persatu sudah bekerja. Ketika ada yang mengajak untuk berkumpul walau hanya sekedar untuk bertemu dan mengobrol, rasanya enggan untuk ikut karena belum mendapatkan pekerjaan, seakaan ada tembok besar yang memisahkan diri sendiri dengan lingkungan. Ketika ditanya oleh interviewer, "mengapa anda tertarik untuk bergabung di perusahaan ini?", "karena saya ingin mengaplikasikan ilmu yang saya miliki, mengembangkan kemampuan diri saya dan mendapatkan pengalaman" jawaban yang cukup standard namun hanya itu yang terlintas. Dilema kemudian muncul saat jawaban tersebut ternyata hanya sekedar formalitas, melamar pekerjaan yang tidak diminati hanya untuk sekedar ingin mendapat "pengalaman". Apa memang sebenarnya hanya itu yang dicari? Sebatas mencari pekerjaan, tanpa tahu apa yang sesungguhnya benar benar diinginkan. Alhasil ketika pekerjaan tersebut sudah didapatkan, lalu menjalaninya tanpa ada dasar keinginan yang kuat karena hanya sekedar terbawa arus society dan keharusan untuk bekerja setelah lulus kuliah, maka apa yang terjadi? Bekerja tanpa ada rasa, bekerja dengan beban yang separuh hidupnya hanya untuk menunggu hari sabtu dan minggu. Mencoba untuk bertahan karena mencari pekerjaan itu sulit, satu mantra yang selalu diucap ketika sedang bekerja.
Apakah hidup hanya sebatas lahir, bersekolah, bekerja, menikah, memiliki anak lalu mati? Apakah hidup hanya sebatas untuk mengikuti arus dan berakhir di ujung jalan yang sebenarnya tidak diinginkan? Bila prioritas tidak untuk mencari uang, tapi hakikat dari kehidupan itu sendiri, apakah hal tersebut mustahil untuk dilakukan? Jawabannya, 'mustahil'. Dunia seakan sudah berotasi pada uang, dan dicambuk untuk terus melaju dengan pancingan uang. Hanya ada satu solusi untuk semua kegundahan di atas. "Bersyukur, dan lihatlah dengan perspektif lain", mantra tersebut selalu disebutkan untuk memulai hari, sampai akhirnya tidak ada lagi persepktif yang bisa untuk dipahami.
"Jalani hidup sesuai yang kau inginkan"
Hanya jawaban di atas yang mampu menjawab semua tanya, terkesan 'klise' namun hidup hanya satu kali, lalu apa lagi yang harus dikorbankan?
Apa yang sebenarnya dicari?
Kebahagiaan untuk menjalani hidup
Harapan yang hanya sebatas harap, karena hidup tidak bisa semenyenangkan itu.
"Jalani hidup sesuai yang kau inginkan"
Hanya jawaban di atas yang mampu menjawab semua tanya, terkesan 'klise' namun hidup hanya satu kali, lalu apa lagi yang harus dikorbankan?
Apa yang sebenarnya dicari?
Kebahagiaan untuk menjalani hidup
Harapan yang hanya sebatas harap, karena hidup tidak bisa semenyenangkan itu.

Komentar
Posting Komentar