persimpangan jalan
Pendar cahaya dari sang mentari hadir di ufuk barat, menerangkan jiwa yang sepi,
Membangunkannya dari bunga tidur yang terbelenggu,
Berharap jarum jam berhenti di angka 6 pagi,
Sehingga hari dapat dijalani oleh dirinya sendiri tanpa harus aku,
Detik per detik bernama realita harus dilewati tanpa perkara seharusnya atau seandainya,
Ada satu ketika diriku berhenti di persimpangan jalan,
Tidak tahu akan kemana kaki ini akan melangkah,
"Ikuti saja arus yang mengalir"
Sayup terdengar suara di ujung jalan, tersenyum sinis melihatku yang terdiam membisu,
Aku ingin pergi,
Ke dunia yang lebih baik lagi
Tidak tertebus kuasa atau materi
Menggila dengan apa yang kupunya
Bahagia dengan cinta yang sederhana
Tapi bisa apa?
Penjara dunia terlalu mega
Semua mati di jeruji yang teruji
Sekarat dengan nafas yang terus mencari
Mati dengan ulat yang menggerogoti hati
Sebenarnya ini dunia apa?
Membangunkannya dari bunga tidur yang terbelenggu,
Berharap jarum jam berhenti di angka 6 pagi,
Sehingga hari dapat dijalani oleh dirinya sendiri tanpa harus aku,
Detik per detik bernama realita harus dilewati tanpa perkara seharusnya atau seandainya,
Ada satu ketika diriku berhenti di persimpangan jalan,
Tidak tahu akan kemana kaki ini akan melangkah,
"Ikuti saja arus yang mengalir"
Sayup terdengar suara di ujung jalan, tersenyum sinis melihatku yang terdiam membisu,
Aku ingin pergi,
Ke dunia yang lebih baik lagi
Tidak tertebus kuasa atau materi
Menggila dengan apa yang kupunya
Bahagia dengan cinta yang sederhana
Tapi bisa apa?
Penjara dunia terlalu mega
Semua mati di jeruji yang teruji
Sekarat dengan nafas yang terus mencari
Mati dengan ulat yang menggerogoti hati
Sebenarnya ini dunia apa?

Komentar
Posting Komentar