renjana jingga
Kala itu, aku sempat memilih untuk berteman dengan sang hampa,
Menjadikan dirinya satu satunya arah untuk kembali dari realita,
Bertemu dalam satu waktu, tanpa asa,
Tidak mengenal rasa sayang, apalagi cinta
Sampai akhirnya ku menemukan sang pendar jingga,
Menarik diriku dari dasar kehampaan yang ku kira akan selamanya,
Ada satu asa yang muncul setelah sekian lama terkubur tak bernyawa,
Seperti bulan yang merindukan bumi untuk saling bertemu dalam rotasinya,
Seperti langit senja yang hadir untuk menyambut sang malam dengan cahayanya,
Seperti rintik hujan yang membahasi tanaman untuk menghidupinya,
Seperti itu lah dirimu, renjana di langit jingga,
Ini bukan soal perkara waktu,
Saat poros duniaku sudah terhenti,
Jiwamu menyeluruh dalam setiap detik yang kumiliki,
Tak ada kata menunggu, atau ditunggu,
Aku inginkan dia, rasa yang menguat saat senja menemani,
Tuk selalu ada dalam setiap nafas yang ku hembuskan,
Menjadi rumah sebagai tempat kembali,
Dirinya akan selalu ada dalam setiap arah yang kujalankan,
Renjana jingga,
Selamanya aku ingin selalu bersamamu,
Merangkai sebuah kisah tanpa ada akhirannya,
Tumbuh bersama kebahagiaan dan kesedihanmu,
Menjadi jiwa yang menguat satu sama lain, selamanya.
Tuk selalu ada dalam setiap nafas yang ku hembuskan,
Menjadi rumah sebagai tempat kembali,
Dirinya akan selalu ada dalam setiap arah yang kujalankan,
Renjana jingga,
Selamanya aku ingin selalu bersamamu,
Merangkai sebuah kisah tanpa ada akhirannya,
Tumbuh bersama kebahagiaan dan kesedihanmu,
Menjadi jiwa yang menguat satu sama lain, selamanya.

Komentar
Posting Komentar